• Home
  • About

Gene Netto

For students & friends: Religion, Education, Politics, and Life.

Feeds:
Posts
Comments

Food Waste on a Massive Scale in England

June 10, 2008 by Gene Netto

Research has shown that 3.6 MILLION TONNES of food are being thrown away in English and Wales every year. The Waste & Resources Action Programme (WRAP) found that salad, fruit and bread were most commonly wasted and 60% of all dumped food was untouched.

The study found that £9 billion (about $US 20 billion) worth of food was disposed of in England and Wales each year. They also estimated that the average UK household needlessly throws away 18% of all food purchased whereas families with children throw away 27%.

The study also found that:
·    Bakery goods made up 19%, by weight, of all avoidable food waste. Vegetables contributed 18%.
·    Meat and fish also made up a large proportion – 18% – of the total money wasted on food. WRAP said 5,500 whole chickens were thrown away each day in the UK.
·    “Mixed foods” like ready meals made up 21% of the total cost of waste, with 440,000 thrown away each day.
·    The two most significantly wasted foods that could have been eaten were potatoes and bread
·    Yoghurt was a commonly abandoned product, with an estimated 1.3m unopened pots disposed of each day.

Read the full article here:

Source: BBC NEWS – Food waste on ’staggering’ scale

********
While some Indonesians are close to starving, wealthier people in richer countries are throwing away billions of dollars worth of edible food. This survey only mentions England. I shudder to think how bad America might be.

I also wonder what the situation is like in Indonesia where the size of the middle class is constantly increasing. Do those people also throw away edible food? That food also becomes rubbish that someone else has to deal with. Then there is the cost of production, the cost of transportation and storage, and other additional costs, all of it wasted.

I wonder if it would somehow be possible for wealthier people to give away unwanted food to the poor. Rather than throwing it into the garbage, they could give it to the rubbish collectors that turn up every morning. Everyone could be encouraged to place some sort of “food bin” on their gate and then poor people would just have to collect any food inside of it each morning.

Isn’t there any logical solution for the mountains of food that is thrown away every day in the homes of the wealthy? How many poor Indonesia citizens have to die from hunger and malnutrition before someone comes up with a practical way to get the excess food from the wealthier citizens into their hands?

Regards,
Gene Netto

Posted in Social | 8 Comments

8 Responses

  1. on June 11, 2008 at 4:10 pm Anonymous

    tunggu sebentar…Inggris itu kan masuk dalam keanggotaan negara2 G8 kan?

    yah, saya hanya bisa mengurut dada dengan ‘nelangsa’. sementara para pengusaha Inggris berlomba-lomba mencari keuntungan besar dari negara-negara ketiga, mereka malah membuang-buang hasil keuntungan mereka yang melimpah dari hasil memotong hak kami hanya untuk sebuah kesia-siaan belaka.
    apa belum cukup kami -orang2 dari dunia ketiga- rela bersabar ‘hasil kerja’ kami kalian hargai dengan sedikit poundsterling? kenapa sekarang kami masih harus melihat kalian berfoya-foya dan menjadikan rejeki-rejeki itu sebagai sesuatu yang mubazir? dimana rasa syukur kalian pada Tuhan??

    Ya Allah, ampunilah mereka, semoga mereka segera sadar dan segera kembali ke jalan-Mu sebelum mereka tak lagi sempat bersyukur kepada-Mu.amin. kumohon dengan sangat ya Allah..sadarkanlah mereka!!


  2. on June 11, 2008 at 6:51 pm Gene Netto

    [komentar dari teman lewat email]

    Dear Gene,

    Sangat memprihatinkan sekali, harusnya kita bisa perbuat sesuatu untuk menyelamatkan makanan yang laik makan agar bisa tersalurkan ke orang yang tidka tercukupi makanan-nya..

    Aku jadi inget, beberapa tahun lalu,kami bertetangga dengan store manager atau apalah dari sebuah supermarket cukup terkenal di Jakarta, dia setiap tengah malam pulang ke rumahnya (yg kebetulan tetangga keluargaku) dengan membawa mobil box berisi sayur mayur, roti2 dan berbagai makanan yang laik makan dan setiap malam (pagi dinihari) rumahnya terbuka untuk para kaum termaginal agar bisa mendapatkan berbagai penganan gratis dari mobil box yg dia bawa..dengan mengambil langsung dari mobil box-nya itu….
    Waktu itu aku masih SMU, jadi belom terpikirkan bahwa betapa mulianya apa yang dilakukan oleh bapak tetanggaku itu..

    Sekarang ketika aku juga terlibat dalam gerakan pemulung buku, ide awalnya juga dari keprihatinku dan teman2 melihat banyaknya buku2 yang dibuang/diloakan begitu saja sementara di berbagai tempat banyak anak2 yang kurang beruntung yang bisa mendapatkan buku2 bagus karena mahalnya harga buku dan susahnya keberadaan buku di tempat mereka, jadi kamipun membentuk wadah yg dapat menampung buku2 bekas dan laik baca untuk bisa di salurkan ke anak2 yg tidak ter akses bahan bacaan berkualitas..

    Jadi Gene, kenapa kita tidak sama2 membuat suatu wadah organisasi yang bisa menampung bahan2 makanan yang masih laik makan untuk disalurkan ke kaum termarginal, karena aku juga tahu bangets ada pabrik produk makanan yg setiap tahunnya terpaksa membuang makanan yg sudah kadaluarsa.. jadi ideku kenapa kita meminta kepada mereka agar makanan2 yg hampir kadaluarsa (3-4 bulan lagi kadaluarsa) untuk di hibahkan saja ke organisasi kita terus kita salurkan tuh makanan tersebut ke mereka2 yg membutuhkannya..

    hanya sebuah pemikiran saja,
    Dwee


  3. on June 14, 2008 at 10:26 pm bingilti

    Assalamu’alaikum.

    Sungguh sangat memilukan, pada saat yang sama, sebagian manusia membuang-buang makanan, sebagian manusia yang lain mati kelaparan karena ketiadaan makanan.

    Kita hidup dalam satu bumi, seharusnya mampu berbagi untuk semua manusia sebumi.

    Kadang, saya sangat perih melihat kenyataan ada orang yang mampu memelihara hewan dengan biaya jutaan, menyediakan makanan yang mahal dan bergizi bagi hewan peliharaannya, sementara itu masih ada tetangganya, sesama manusia yang masih menahan lapar dan kekurangan gizi.

    Wassalam.


  4. on June 14, 2008 at 10:40 pm Gene Netto

    Begitulah manusia. Aneh kan? Kalau orang ateis begitu, kita bisa paham. Tetapi kalau orang yang mengaku sebagai orang Kristen juga begitu, sangat aneh. Mereka percaya bahwa kita diciptakan oleh Tuhan dan ada sorga dan neraka yang menanti kita. Tetapi mereka hidup keenakan, tanpa mau peduli pada tetangga.
    Bagaimana kalau yang hidup seperti itu adalah orang Muslim? Lebih aneh lagi kan? Seharusnya peduli pada sesama, tetapi ternyata lebih peduli pada mobil Bentley-nya.

    Tadi saya lewati pernikahan di Balai Sudirman. Macet karena begitu banyak tamu mau masuk gedung. Dan juga di Hotel Gran Melia. Jadi berpikir: berapa ratus milyar yang telah dihabiskan pada mala mini, di DKI saja, cuma untuk pesta perkawinan???

    Kasihan anak yatim yang lapar. Tidak ada yang mau undang mereka ke pesta pernikahan… sekalipun yang menikah itu Muslim…

    Saya belum pernah melihat pernikahan yang pasang kotak amal di depan pintu masuk. Maksud saya, karena mereka tahu ribuan orang kaya mau datang, mereka gunakan sebagai kesempatan mengumpulkan uang buat anak yatim.

    Bayangkan kalau 1 hari setelah pesta pernikahan suami-isteri yang baru itu bisa mengantarkan ratusan juta kepada anak yatim. Kira-kira pernikahan mendapatkan berkah dari Allah atau tidak?

    Tinggal memberitahu semua tamu pada undangannya: “Tolong membawa sumbangan sebanyak2nya untuk anak yatim, dan taruh dalam kotak amal di pintu masuk gedung.”

    Apakah suatu saat bisa terjadi bahwa itulah yang umum, dan pesta gaya lama yang kumpulkan uang untuk pengantin saja menjadi langkah…?

    Wassalam,
    Gene


  5. on June 16, 2008 at 12:36 pm Anonymous

    kenapa ga coba dikasih contoh dulu aja Mr. Netto??bikin pesta pernikahan dengan KOTAK AMAL di bagian penerima tamu…ntar saya daftar jadi PENERIMA TAMU-nya deh sama Raf…hehehehe…

    berikutnya, Insya Allah saya dan yang lain akan coba ikutin jejaknya. kita bantuin deh bikin trend mode baru, gimana??gimana??

    NAKULA


  6. on June 16, 2008 at 2:31 pm bingilti

    Assalamu’alaikum.

    Subhanallah, ide yang sangat mulia, memanfaatkan pesta pernikahan untuk mengumpulkan dana bagi anak-anak yatim piatu.

    Sungguh saya baru terfikir. Tapi saran saya sebaiknya diam-diam saja, para undangan tidak perlu diberitahu bahwa itu untuk amal kepada yatim piatu, karena bisa jadi yang tadinya memberi banyak karena untuk pengantin,jadi memberi sedikit karena tahu untuk anak yatim. hieks…hieks..hieks…

    Kemarin, Bapak Hidayat Nurwahid sudah memberi teladan dengan mengundang anak-anak yatim piatu di pesta pernikahannya. Alhamdulillah.

    Tahun lalu, teman saya malah meniadakan kotak amplop alias tidak menerima amplop, karena niatnya betul-betul untuk berbagi kebahagian bukan untuk balik modal atau mencari keuntungan. He…he..he..

    Kembali ke topik, kalau saja semua manusia mengenal sosok Rasulullah Muhammad SAW, dan mengikuti teladannya yaitu : “Makanlah jika kamu lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang”, tentulah kita tidak perlu belanja bahan makan berlebihan sehingga akhirnya karena tidak sempat diolah kemudian dibuang-buang.

    sesungguhnya dari setiap rupiah yang kita belanjakan, akan ada pertanggungjawabannya dihadapan Allah.

    Wassalam.


  7. on June 16, 2008 at 3:22 pm wati

    Menurut pendapat saya alangkah lebih baiknya nggak perlu mengadakan pesta yang mewah dan uang yang dianggarkan untuk mengadakan pesta disumbangkan untuk anak yatim dan orang-orang miskin, bukannya itu lebih mulia.

    Nakula, jangan-jangan kamu jadi penerima tamunya, itu kotak amal di bawa pulang hahahaha. Kabuuuur sebelum digetok sama Nakula.


  8. on June 16, 2008 at 3:47 pm Gene Netto

    Blogger bingilti said…

    “Kemarin, Bapak Hidayat Nurwahid sudah memberi teladan dengan mengundang anak-anak yatim piatu di pesta pernikahannya. Alhamdulillah.”

    Hmmm, kalian belum tahu siapa yang memberikan idenya kepada staf Pak Hidayat ya? Hehehehe…

    Saya bukan orang yang asal ngomong.
    Ini baru satu hasil saja dari sekian usul saya yang alhamdulillah diterima oleh orang lain yang punya posisi untuk melakukan perubahan.
    Ada beberapa yang lain yang tidak sampai masuk ke berita, tetapi hasil nyata di lapangan ada. Hanya saja saya tidak ceritakan di blog saya. Hanya teman dekat saya yang tahu. (Takut dibilang ge-er atau sombong).
    Ada juga beberapa usul yang sudah disampaikan, sudah diterima, tetapi belum diumumkan ke publik. Tunggu saja sampai keluar…

    Tapi kalau sudah diumumkan, belum tentu saya mau mengaku bahwa ide itu dari saya. Biarkan saja orang lain yang dipuji-puji. Buat saya, yang penting adalah hasil nyata di lapangan, bukan pujian dari orang lain. Comment saya ini tidak usah ceritakan kepada orang2 lain ya, buat teman2 di blog saja ya. Terima kasih.)



Comments are closed.

  • Recent Posts

    • President Obama’s Remarks at Cairo University, Egypt
    • Killed and Injured in Gaza: A Comparison
    • We Will Not Go Down (Song For Gaza)
    • Gaza and Israel: I wonder what would happen…
    • Egyptian teacher jailed for killing 11 year old student
    • Obesity set before age of five
    • Teacher’s Confession 2: “Bilingual Classes” Are A Mess
    • Teacher’s Confession 1: SBI Schools Are A Mess
    • Parents can put their own children in danger
    • Josephson Institute’s 2008 Report Card on the Ethics of American Youth
    • Earlier morning classes
    • Salam Café: Muslim Talk Show from Australia
    • John McCain: A Make-Believe Maveric
    • Inside Iran’s Fury
    • Let the Rich Bail Them Out
  • Recent Comments

    keyko on Sekolah Bilingual (Dwibahasa) …
    Gene on Sekolah Bilingual (Dwibahasa) …
    Gene on Sekolah Bilingual (Dwibahasa) …
    keyko on Sekolah Bilingual (Dwibahasa) …
    bahtiar on Maulid Nabi Yang Kurang Tepat …
  • Categories

    • Children
    • Education
    • Environment
    • For fun
    • Gene
    • Health
    • Indonesia
    • ISLAM
    • Letters To Jakarta Post
    • Opportunity for Charity
    • Political
    • Social
    • Uncategorized
  • Blog Stats

    • 11,496 hits
  • Archives

    • June 2009
    • January 2009
    • December 2008
    • October 2008
    • July 2008
    • June 2008
    • May 2008
    • April 2008
    • March 2008
    • February 2008
    • January 2008
    • December 2007
    • November 2007
    • October 2007
    • September 2007
    • August 2007
    • July 2007
    • June 2007
    • May 2007
    • April 2007
    • March 2007
    • February 2007
    • January 2007
    • December 2006
    • November 2006
    • October 2006
    • September 2006
    • August 2006
    • July 2006
    • June 2006
    • May 2006
    • April 2006
  • Just Foreign Policy Iraqi Death Estimator

Blog at WordPress.com.

Theme: Mistylook by Sadish.