Assalamu’alaikum wr.wb.,
Ini termasuk berita paling gila yang pernah saya baca.
Bea Cukai Cegah Peti Kemas Bermuatan Kondom Bekas Pakai
JAKARTA, KOMPAS – Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, mencegah satu peti kemas ukuran 40 kaki berisi kondom bekas pakai dan gumpalan karet bekas yang diimpor PT RRT. Barang impor dari Jerman itu sudah dua pekan berada di dermaga Jakarta International Container Terminal dan digolongkan sebagai limbah klinis yang berpotensi menimbulkan penyakit (patogen).
Pada dokumen transportasi laut (bill of landing) disebutkan bahwa peti kemas berisi “new process scrap & wastes of natural latex condoms” dengan berat bersih 25.280 kilogram. Dokumen Bea dan Cukai yang diperoleh Kompas menyebutkan, kondom bekas pakai tidak dapat digolongkan sebagai potongan karet (rubber scrap) yang boleh diimpor. Contoh potongan karet yang lazim diimpor adalah potongan-potongan ban karet.
*****
Kira-kira apa manfaatnya mengimpor kondom bekas? Pertama, ada bayaha nyata dari HIV dsb., karena ini merupakan limbah klinis. Kedua, sesuatu yang diimpor (misalnya beras) biasannya hanya diimpor karena tidak ada stok lokal yang cukup atau karena harga lebih murah.
Apakah mungkin tidak ada stok kondom bekas di negara ini yang cukup sehingga perlu diimpor? Dan saya tidak bisa bayangkan jawaban dari seorang direktur perusahaan tersebut pada saat dia ketemu orang di pesta.
A; “Pekerjaan bapak apa?”
B: “Oh, saya pengimpor kondom bekas.”
A: “???????!?!?!?!?!?!?!?!”
Saya jadi ingat pernyataan Wapres beberapa minggu yang lalu pada hari HIV dunia, di mana dia menganjurkan agar anak bangsa menggunakan kondom. Sekaligus, ada juga yang membagi-bagi kondom di sekolah2 dan kampus2. Kalau anak2 nurut dengan Jusuf Kalla, dan memang lebih rajin menggunakan kondom, yang bekas ditaruh ke mana? Apakah dibuang? Sayang dong, kan, ternyata ada PT yang siap beli!!!! (Kasihan pemulungnya ya).
Saya dapat ide baru. Mengikuti contoh dari teman2 yang aktif di LSM 1001BUKU, barangkali Wapres siap menjadi pelopor dengan mendirikan sebuah perusahaan baru: PT 1001kondombekas. PT baru ini bisa mengikuti contoh dari 1001buku (yang kumpulkan buku bekas buat anak miskin), dengan menaruh kotak ‘collection’ di tempat2 strategis, seperti di depan hotel yang menyewakan kamar per jam, di depan sekolah2 di mana kondom pernah dibagikan (depan ruangan kepala sekolah misalnya), di kampus2 (misalnya di depan perpustakaan, supaya anak yang sedang kembalikan buku bisa antarkan kondom bekasnya sekaligus), di dekat kos-kosan, dan sebagainya.
Dan mungkin Wapres bisa sekaligus gerakkan industri supaya tidak sebatas menggunakan produk ini di dalam negeri tetapi juga ikut mengekspor kondom bekas ke negara lain. Kenapa kita harus terima dari mereka? Kenapa bukan kita yang mengekspor? Wapres sudah menyuruh anak bangsa untuk lebih rajin menggunakan kondom, berarti ada peningkatan pengunaan, dan dengan demikian, membuka kesempatan untuk bisnis baru. Mungkin karena Wapres begitu semangat mendukung penggunaan kondom, dia akan siap mendirikan BUMN baru, khusus untuk mengekspor yang sudah bekas. (Kenapa hanya minyak kelapa sawit yang jadi target utama untuk ekspor?)
Saya bisa bayangkan berita dalam 1 tahun mendatang: “Indonesia keluar dari krisis moneter dengan eskpor kondom bekas!” Luar biasa. Sekarang saya jadi paham kenapa Wapres menyuruh anak bangsa lebih rajin menggunakan kondom. Sebagai seorang pengusaha, dia tentu saja lebih pintar melihat kesempatan bisnis yang baru daripada kita yang awam di bidang impor-ekspor.
Selamat pada bangsa Indonesia. Semoga PT 1001kondombekas berhasil memperbaiki ekonomi negara.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,

??????
nguik…??
Hahahahaha…
Wapres aja Menganjurkan anak bangsa rajin pake kondom. Sama aja dengan menganjurkan anak bangsa melakukan seks bebas… Supaya kondom2 bekasnya bisa di eksport, di daur ulang, skalian aja dibikin permen karet…
kondom dibagi bagikan secara percuma kepada anak sekolahan…?
Maksud nya apa seh pa JK..?
Indonesiaaaaaaaaaaa Indonesia….
yang saya takutkan jangan2 dot botol susu dan empeng anak bayi dibuat dari kondom bekas…?????
Duh Gusti…menyeramkan sekali!
Raf, Pak JK itu kan Pengusaha, yang diutamakan ya keuntungan dulu (uang) untuk urusan moral dikebelakangkan. Betul kata Mr.Gene, mungkin di masa mendatang didirikan PT yang bergerak di bidang ekspor-impor kondom bekas ha ha. Ini salah satu ide untuk menciptakan lapangan kerja. Prihatin juga ya mempunyai Wapres dengan pemikiran seperti pak JK.
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Saya pernah lihat beritanya disalah satu stasiun TV swasta.Aneh…hemmm…bukan aneh lagi entah kata2 apa lagi untuk nanggapin hal itu.Sungguh mengherankan karena barang yang aneh bentuknya itu dikirim ke indonesia.Begitu luasnya bumi ini seakan2 tidak ada tempat untuk membuang limbah itu malah larinya kemari.Menurut informasinya bahwa kondom bekas itu dijadikan sebagai aksesoris wanita seperti ikat rambut dan mungkin sejenisnya tapi yang kasihan juga orang yang mau mengolahnya lebih2 masyarakat yang tidak mengetahui hal ini.
Sebaiknya selalu berhati2 dalam memilih aksesoris seperti ikat rambut yang terbuat dari karet atau cari yang dari bahan lain.Sebelumnya bukan hanya limbah ini saja yang di impor dari negara lain tapi limbah yang berbahayapun pernah datang dari luar.Yang katanya untuk dijadikan kompos tau2mengandung zat yang berbahaya.
Wassalamu’alaikum WrWb
Kalau mau hati2 pilih aksesoris, bagaimana caranya? Emang ada aksesoris yang mempunyai label: “Dibuat dari kondom bekas” supaya lebih mudah dikenal? Atau lebih mungkin tidak ada tulisan sama sekali? Dan bila ada, paling menyebutkan negara yang membuatnya. Tetapi untuk banyak barang sekarang, itu saja juga tidak ditulis.
Mainan anak dari Cina mengandung zat2 berbahaya. Apakah dari semua negara lain bersih dan aman untuk anak? Siapa yang memeriksa? Apakah mungkin bahwa perusahaan yang mengimpornya ke sini akan memberitahu kita tentang kejelekan produknya sendiri? Yang penting buat dia untung, bukan kesejahteraan masyarakat.
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Yah,seperti informasi dari berita yang saya dengar dan lihat yang mengatakan demikian bahwa limbah yang dikirim dan disita itu kemungkinan biasanya dibuat u/ aksesoris seperti ikat rambut.Kalau mau tahu caranya yah,jangan beli ikat rambut berbahan plastik,kan banyak ikat rambut dari bahan berjenis lain.Tapi yang anehnya saat di tanyakan langsung kepada beberapa konsumen pembeli yang merupakan wanita,eksperesi mereka awalnya kaget tapi ditanya lagi “setelah mengetahui hal itu “apa mau tetap beli?.Ada yang menjawab “ragu2…nggak tahu yah,ada juga yg tetap mau membeli dengan alasan mereka membutuhkannya.
Dan berselang adanya kasus impor kondom yg dikirim dr german .Ternyata ada lagi kiriman kondom ilegal yang ternyata mengandung limbah berbahaya b3 dari taiwan,walaupun barang(kondom) tersebut adalah bukan bekas tapi barang rusak.
Di amerika dan beberapa negara eropa atau malah mungkin hampir di seluruh dunia.Begitu banyak mainan buatan china yang diekspor kenegara2 lain.Dan bukan hanya itu produk2 lainnyapun yang ber-made in china begitu banyak dipasaran.Yang dipasarkan seperti negara maju khususnya amerika sendiri.Ternyata dari hasil penelitian mereka,mainan2 anak tersebut mengandung bahan yang berbahaya dan itupun baru diketahui oleh pemerintah amerika sendiri yang notabene negara ini maju dan pastinya semua barang yang masuk kenegara harus melewati pengujian atau pemeriksaan sebelumnya.Tapi mereka baru mengetahuinya sedang produk tersebut sudah banyak berada ditangan konsumen sendiri.
Wallahu ‘alam bishawwab
wassalamu alaikum Wr.Wb
Makanya, kita semua lebih baik membeli produk dalam negeri, di negara masing2. Saya kurang suka “globalisasi” karena salah satu efek samping adalah kita “terpaksa” menerima aksesoris yang dibuat dari kondom bekas, dan mainan anak yang penuh dengan zat2 yang berbahaya. Saya katakan “terpaksa” karena sekarang hampir tidak ada mainan anak atau produk lain yang TIDAK diproduksi di Cina. Si pengusaha hanya ingin profit yang tinggi (dan untuk mencapainya, harus beli barang dari Cina karena paling murah), dan konsumen inginkan barang yang semurah mungkin supaya bisa menikmati gaya hidup konsumptif yang telah diimpor dari Amerika. Zaman dulu, orang bayar lebih mahal untuk beli X, tetapi beli seperlunya, bukan 10 kali lebih. Beli 1 barang, dan masih digunakan terus untuk 10 tahun, mungkin dengan reparasi sedikit. Sekarang beli 1 barang, dan tahun depan berli lagi karena sudah rusak. Akhirnya, beli 10 dalam 10 tahun. Ini salah satu hasil yang negatif dari dunia globalisasi sekarang. (Ada yang positif juga).